Qing Ming tahun ini

qing ming (ceng beng in hokkian) tradisi ziarah ke makam leluhur. Buat saya sudah jadi rutinitas sejak 10 tahun yang lalu sejak Papa meninggal. Did I just typed ‘10 tahun yang lalu’??? wow… sudah lama ya…

kenapa saya mau repot2 posting soal qing ming karena (…eh bentar agak aneh tulis qing ming, when I preferably pronounce those words as CHing Ming, or Cung Beng for Ceng Beng, but yah whatthehell…) adat tentang leluhur ini yang ternyata banyaaakkkk sekali. terutama soal bakar-bakaran kertas.

bakar-bakaran kertas ini katanya sih sebagai simbolik bakal jadi ‘barang’ yang bisa dipakai di alam sana. seperti kertas yang digulung menjadi ‘uang-uangan’, baju, tas, sepatu, jam tangan, even blackberry??!!! Itu semua dari kertas!

dan jalan satu-satunya para leluhur atau siapapun yang meninggal itu bisa mendapat kertas-kertas yang dibentuk tadi dengan cara… dibakar. Yak… dibakar saja begitu.

Tahun ini, qing ming agak lain, karena tante saya (yang memang tiap tahun pulang kampung ke makassar) pesan rumah-rumahan untuk nenek buyut dari suaminya.

I repeat… RUMAH-RUMAHAN!!! Yes. Rumah-rumahan dari kertas dengan ukuran 1,7 x 1,4 meter dengan rangka kayu. Pengrajinnya nih ya awalnya sih minta 4 juta untuk per rumah, tapi entah kenapa bisa nego sampe dapat 2.5 jt saja… Memang sih ada adatnya yang meninggal memang dibakarkan rumah-rumahan sebagai simbol supaya di alam sana punya rumah dan tidak jadi hantu yang keluyuran sembarangan.

itu proses bakar-bakarnya, (gambarnya kurang jelas, hujan sih, sayanya dari atas mobil saja :D)

but anyhow di otak saya kurang bisa nyangkut soal bakar-bakar ini, itu sama saja membakar duit 2.5 juta lho :-|

mau percaya mau tidak, tradisi ini tuh sudah dari jaman entah kapan. dan Mama saya sudah mewanti-wanti saya untuk kurang lebih mengingat tata-caranya *sigh* karena mama pernah bilang “Kalau bukan kau yang lanjutkan, nanti Papa siapa yang sembahyangi?” : | err…

Notes